Akhir pekan
ini, tepat tanggal 16 Maret 2014 sebuah cerita besar terjadi di Old Trafford.
Bukan, bukan
tentang aksi heroik Robin Van Persie yang mengobrak-abrik barisan pertahanan
Liverpool yang dijaga Martin Skrtel, bukan pula sigapnya Rafael Da Silva mematikan
laju Raheem Sterling disisi kanan pertahanan United, ini tentang bagaimana
United seperti kembali ke kodratnya sebagai barisan pemain cupu tanpa arah
selama 90 menit.
Ya, setelah
merebaknya surat terbuka fans untuk sang manajer yang dielu-elukan seisi
timeline, kembali Manchester United harus menerima kekalahan memalukan dari
Liverpool, klub yang musim lalu masih menjadi bahan bully-an cabe-cabean
Manchester United yang tak jarang akun facebooknya bernama “Youdhe
ManchunianSelalu Untuk Selamanya”, sudahlah lupakan, mungkin ia mengantuk dan
ogah ogahan membaca informasi apa itu arti Manchunian.
Diawal musim
siapa fans United yang tak bahagia ketika David Moyes ditunjuk Sir Alex
Ferguson untuk menggantikannya menahkodai klub sebesar United ? tak dipungkiri
saya pun bahagia dan tak sabar menanti trofi demi trofi bertambah dilemari
United Museum.
Sepak
terjang Moyes di EPL sudah cukup membuktikan ia manager yang berkualitas,
menelurkan banyak bintang seperti Ross Barkley, Maroune Fellaini hingga Leighton
Baines, pemain yang sebelumnya sama sekali tak diincar klub klub berduit yang
kini antri memburu tanda tangan mereka, kecuali Fellaini yang sudah menjadi
pupuk bawang dibarisan lini tengah United.
Satu partai
yang meyakinkan diawal musim, kemudian setelahnya ? United bermain seperti
Everton Reserve yang sekonyong-konyong dipaksa bermain di Premiership, canggung
dan bingung. Setelahnya bisa ditebak, United dipukul berkali-kali hingga bahkan
klub medioker macam West Bromwich Albion sanggup mencuri 3 angka di Old
Trafford dengan Morgan Amalfitano sebagai provokatornya.
Moyes adalah
seorang yang paling santun di Liga Inggris pasca melatih United, baginya tamu
adalah raja, dan 3 poin melayang adalah hal biasa, di konferensi pers ? seperti
belakangan ini, ia hanya menyalahkan wasit yang tak memberi pinalti, wasit yang
memihak klub lawan, dan baru sekali merasa bersalah ketika membuat United
tersungkur ketika bersua Olimpiacos.
Jika ada
yang patut disalahkan dengan panasnya situasi ruang ganti, buruknya performa dilapangan,
dan kurangnya gairah menang United belakangan ini, siapa yang lebih patut
disalahkan ? Wayne Rooney yang bertambah gemuk dan mulai berwarna hijau seperti
Shrek ? atau Van Persie yang sudah mulai dimakan usia dan encoknya sering
kambuh ? Rio Ferdinand yang lebih sering jualan topi daripada bermain bola ?
atau mungkin Shinji Kagawa yang kesulitan beradaptasi dan berkompetisi dengan
Adnan Januzaj ?
Tentu saja
bukan mereka inti permasalahannya, Moyes adalah faktor utama yang seharusnya
segera sadar dan angkat kaki sebelum menjadi public enemy fans cerdas yang tak
mau ikut dalam kampanye #InMoyesWeTrust yang mungkin sebenarnya dipopulerkan
oleh tim fans tim lain macam Chelsea, City, Liverpool, bahkan mungkin Hull
City.
Jikapun ada
yang berkata “Moyes itu pilihan Sir Alex Ferguson, jika Moyes disalahkan
berarti kalian menyalahkan Sir Alex !?”.-- tentu saja Sir Alex pun salah dalam
hal ini, memilih manager dengan pertimbangan muda, suka pemain muda, sama-sama
berfaham sosialis dan berasal dari Skotlandia, tapi ternyata tak becus mengatur
tim sehebat United.
Masihkan
ingat ucapan “tak ada pemain yang lebih besar daripada klub itu sendiri” –maka
tak ada juga manager yang lebih besar dari klub, klub adalah prioritas utama,
manajer atau eks-manager yang berjasa besar membesarkan klub bukan santo yang
tak pernah salah.
Semakin hari
saya pribadi tak menyukai gaya kepelatihan Moyes.
Dipertandingan
melawan Liverpool akhir pekan kemarin, coba saja cermati pergantian pemain yang
dilakukan Moyes, jelas jauh dari kata efektif. Tak ada pemain subtitusi yang
merubah gaya permainan United, mati gaya, kemudian dibully habis-habisan oleh
Stevie G dan Clattenberg. Bahkan Liverpudlian pun sampai mengibarkan banner memalukan "David Moyes is a football genius". Memalukan.
Maka
sudahilah sandiwara kalian pura-pura menjadi fans sejati Manchester United
dengan hastag #InMoyesWeTrust, sebenarnya kalian ini fans United atau fans
David Moyes ?
Fans loyal
bukan diukur dari banyaknya hashtag serupa ketika United selesai bertanding,
tapi dari berapa uang yang kalian habiskan membeli tiket, jersey dan pernik di
Megastore, versi kere-nya ya setidaknya pedulilah dengan nasib tim kalian
kedepan, mau terseok-seok dan nir-gelar bertahun-tahun, atau membuat spekulasi
baru hingga menemukan sosok ngotot dan haus gelar seperti Sir Alex, bukan
manager yang targetnya hanya lolos Liga Champions.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar